FEDERAL INTERNATIONAL FINANCE

CSR CSR

[ Selasa, 11 Maret 2008 ]
ikaFIF HADIR DI SMP TERBUKA DEWANTARA

Di hari sabtu nan cerah pada tanggal 1 Maret 2008 sebagian personil IikaFIF mengadakan kunjungan bakti sosial ke sebuah kampung yang terletak kurang lebih 60 km arah barat Jakarta.

Tempat yang kami tuju adalah sebuah sekolah sederhana yang terletak di sebuah kampung yang bernama Kp. Suradita di Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang.

Sebuah spanduk bertuliskan “Penyaluran Dana ZIS untuk Operasional SMP Terbuka Dewantara” terpampang di sebuah sekolah yang sederhana di pinggir persawahan yang ada di Kp. Suradita Kec. Cisauk – Kabupaten Tangerang.

Bakti Sosial Ikatan Karyawan FIF ini adalah penyaluran dana zakat, infaq dan sadakoh untuk pertama kalinya di tahun 2008. Zakat merupakan kewajiban setiap individu muslim yang memiliki kelebihan harta. Salah satu alasan mengapa zakat diwajibkan dalam ajaran Islam, karena cara tersebut untuk memeratakan karunia yang Allah SWT berikan, agar dapat dinikmati oleh orang-orang yang belum mendapatkannya.

Sekolah yang kami tuju berada di pinggiran sawah yang terletak jauh dari jalan raya. Kondisi jalan yang sempit mengakibatkan kami tidak bisa mencapainya dengan mobil. Perjalanan harus kami lanjutkan dengan menggunakan sepeda motor.

Di sana, kami diterima oleh Bp. Hardy sebagai perwakilan dari PKPU (Pos Keadilan Peduli Ummat) dan Bp. Idham sebagai Kepala Sekolah SMP Terbuka Dewantara di ruang guru.

Kondisi gedung sekolah yang kami kunjungi, dari jauh tampak seperti gedung sekolah negeri kebanyakan yang pernah kami temui. Namun sejenak kami tertegun setelah kami menyaksikan kondisi di dalam gedung sekolah itu.

Kami diterima di Ruang Guru. Ruang tersebut hanyalah berisi meja, kursi dan perabot seadanya. Tidak ada kursi yang empuk, tidak ada lantai licin yang mengkilap. Yang ada hanyalah kursi kayu yang sudah usang dan hampir patah. Lantainya pun hanyalah lantai plester dari semen biasa.

Kondisi buku-buku pelajaran juga sama memprihatinkannya. Hanya ada tumpukan buku-buku yang tidak teratur di lemari buku. Buku-buku yang sudah usang dan berdebu.

Bp. Idham sebelum menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMP Terbuka Dewantara adalah seorang karyawan di Dept. Pajak. Berbekal niat untuk membantu anak-anak yang kurang mampu untuk mengikuti pendidikan yang layak di sekolah, Bp Idham memulai sekolah ini. Kemudian beliau tinggalkan pekerjaannya yang dulu, sambil kami perhatikan dengan cukup prihatin penampilan Bp. Idham dengan batik lusuhnya. Pendidikan di sekolah ini adalah pendidikan gratis bagi siswa yang kurang mampu. “Sekolah gratis, bukan berarti sekolah murahan,” begitu yang selalu dikatakan oleh Pak Idham saat beliau menceritakan sekolah ini.

Banyak hal yang disampaikan oleh Bp. Idham. Selain kondisi sarana dan prasarana sekolah yang boleh dibilang seadanya, beliau juga menceritakan kesejahteraan guru yang sangat minim. Guru di sekolah tersebut adalah guru yang menerima gaji dari pemerintah sebesar Rp. 300.000,00 per bulan yang diberikan 3 bulanan. Bahkan ada guru yang menerima gaji Rp. 50.000,00 – Rp. 100.000,00 per bulan. “Dengan gaji yang hanya sebesar itu, bagaimana mungkin saya bisa memaksa mereka untuk berkarya lebih giat lagi,” begitu ujarnya. “Kualitas pendidikan itu pasti bisa ditingkatkan, asalkan kesejahteraan guru ditingkatkan,” lanjutnya.

Sejenak kami terdiam, karena kami benar-benar prihatin saat mendengar perkataan Bp. Idham. Bagi kami, guru di tempat ini adalah benar-benar “Pahlawan tanpa Tanda Jasa”.

Lima puluh ribu rupiah adaah tanda jasa yang sangat tidak layak diterima oleh seorang guru yang notabene adalah pendidik tunas bangsa di masa mendatang.

Penerimaan murid baru di sekolah ini adalah dengan sistem psikotest. Lembaga psikotest membantu sekolah ini dengan mengadakan psikotest gratis untuk calon murid di sekolah ini. Murid-murid yang diterima di sekolah ini haruslah seorang yang lulus psikotest. Sekolah ini tidak menerima siswa pindahan dari sekolah lain, karena dikhawatirkan siswa yang pindah ke sekolah ini adalah siswa yang bermasalah dengan sekolah asalnya. Menurut Bp. Idham, jika sekolah ini menerima siswa pindahan dari sekolah lain, maka dikhawatirkan akan memberikan dampak yang kurang baik bagi siswa. “Siswa sekolah pindahan biasanya adalah siswa yang bermasalah, oleh karena itu saya tidak menerima kehadiran siswa pindahan dari sekolah lain,” begitu yang dikatakan Bp. Idham.

Selain itu, yang membuat sekolah ini berbeda dengan sekolah yang lain adalah disiplin yang diterapkan dari guru sampai kepada siswa sekolah untuk tidak merokok. Menurut Bp. Idham, “jika seorang siswa sudah kecanduan rokok, maka mereka akan lebih mudah terpancing ke narkoba. Untuk itulah siswa di sini dilarang merokok.”

Setelah kami mendengar penjelasan panjang lebar dari Bp. Idham mengenai kondisi sarana dan prasarana sekolah, kami segera memberikan sumbangan kepada Bp. Idham.

Sumbangan sebesar Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) diserahkan secara simbolis oleh Doni Prajudi selaku ketua ikaFIF dan diterima oleh Bp. Idham selaku pihak yang mewakili SMP Terbuka Dewantara.

Dengan wajah yang penuh ungkapan syukur, Bp Idham berkata, “Sumbangan ini akan kami pakai untuk memperbaiki sarana dan prasarana sekolah, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT untuk kebaikan hati segenap karyawan FIF terhadap kami sebagai penyumbang dari perusahaan untuk yang pertama kalinya , kiranya Allah SWT yang akan membalasnya. Terima kasih.“

Doa Untuk Para Muzakki Karyawan FIF oleh Bp. Asep salah seorang Guru Bantu SMP Dewantara (Baju Hitam)
(Witari A - Koordinator Jepreters ikaFIF & Accounting Dept)