Selama 2007 pembiayaan sepeda motor yang macet di industri multifinance diperkirakan 3%-4% meski diakui tidak menghambat kinerja perusahaan pembiayaan.
Presdir PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) Suwandi Wiratno mengatakan pembiayaan yang macet diperkirakan masih di bawah 3% rata-rata industri. Namun, dia tidak dapat menyebutkan perkiraan nilai kredit macet tersebut.
Dia menambahkan pembiayaan macet masih manageable dan dapat dikendalikan oleh setiap perusahaan dengan menerapkan manajemen risiko.
Pengendalian kredit macet, tuturnya, juga dapat tertangani dengan pertumbuhan kepemilikan motor setiap tahunnya yang cukup tinggi.
”Pengelolaan pembiayaan ini salah satunya dengan memperkuat collection sehingga peluang kredit macet bisa diminimalisasi,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.
GM PT Federal Internasional Finance (FIF) Nurrokhman mengatakan sulit untuk menentukan rata-rata pembiayaan macet di industri karena setiap perusahaan memiliki standardisasi berbeda. ”Sehingga hanya dapat dihitung per perusahaan. Jika dihitung secara rata-rata diperkirakan hanya sebesar 4%,” tuturnya.
Penghitungan pembiayaan motor yang macet pada FIF, tuturnya, dihitung berdasarkan jumlah kontrak aktif.
Dia memaparkan kategori kredit macet pada FIF ditentukan selama 150 hari setelah melalui serangkaian proses. Perusahaan lain, tambahnya, bisa lebih longgar mencapai 200-250 hari.
Naik lebih besar
Menurut dia, kredit macet tersebut tidak menghambat perusahaan pembiayaan karena pertumbuhan kredit kepemilikan motor setiap tahun naik lebih besar sehingga dapat menutupi kredit macet.
Nurrokhman mengatakan kredit kepemilikan motor lebih berpotensi terjadi kredit macet seiring dengan semakin mudahnya masyarakat memiliki motor. Bahkan, pasarnya telah masuk pada level konsumen paling rendah di masyarakat.
Namun, lanjutnya, semua perusahaan pembiayaan telah menerapkan manajemen risiko yang cukup baik sehingga angka kredit macet sedapat mugkin bisa ditekan.
”Setiap perusahaan dapat mengelola kredit dengan baik, misalkan dengan menerapkan strategi pada bagian penagihan yang lebih intensif dari asalnya tiga kali menjadi lima kali,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan pembiayaan menerapkan sistem penyaringan yang ketat pada saat akuisisi.
Dia menargetkan pertumbuhan kredit kepemilikan motor FIF tahun ini mencapai 25% dari 2007 menjadi 1,25 juta unit.
Jika mengacu pada data Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) pasar motor pada 2007 mencapai 4,6 juta unit. Apabila rata-rata kredit macet 3% dengan pembiayaan pokok Rp8,5 juta per motor, nilai kredit macet diperkirakan Rp1,17 triliun.
(Bisnis Indonesia - Kamis, 21 Februari 2008)