FEDERAL INTERNATIONAL FINANCE

Public Source Public Source

[ Selasa, 22 Juli 2008 ]
Laba FIF per Juni capai Rp300 miliar

PT Federal International Finance (FIF) membukukan laba bersih hingga pertengahan tahun ini sebesar Rp300 miliar atau meningkat 66,7% pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp180 miliar.

”Hingga akhir tahun kami menargetkan laba bersih sebesar Rp500 miliar. Kami yakin target akhir tahun tersebut dapat tercapai,” kata Presiden Direktur PT FIF Suhartono kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan manajemen memfokuskan pertumbuhan pembiayaan di luar Pulau Jawa karena dinilai tidak terlalu kena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

”Ini tidak seperti pada 2005 di mana kenaikan BBM menyerang hampir seluruh wilayah di Indonesia. Tahun ini, [pembiayaan] kami dapat tumbuh di luar Pulau Jawa juga, seperti di Sumatra ditargetkan dapat tumbuh hingga 40%,” katanya.

Suhartono mengemukakan pihaknya melakukan revisi target semester II pada Agustus mendatang. Per Juni 2008, FIF merealisasikan pembiayaan terhadap 500.000 unit motor atau setara dengan pembukuan senilai Rp5,7 triliun.

1 Juta unit

Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 300.000. Tahun ini, perseroan menargetkan realisasi pembiayaan sebanyak satu juta unit atau sekitar Rp12 triliun.

Sebelumnya, perusahaan yang bergerak di pembiayaan motor ini telah menerbitkan surat utang sebesar Rp1 triliun yang over subscribed mencapai Rp1,1 triliun dengan jangka waktu satu hingga empat tahun.

Suhartono mengatakan penerbitan surat utang tersebut merupakan salah satu upaya manajemen untuk mendukung target pembiayaan hingga akhir tahun yang mencapai Rp12 triliun.

”Instrumen lainnya untuk mendukung target itu adalah dengan pembiayaan bersama [joint financing] dan penyertaan modal.”

Saat ini, skema pembiayaan perseroan lebih didominasi oleh pembiayaan bersama dengan pihak bank. Sekitar 12 bank yang terlibat dalam pembiayaan bersama a.l. Bank Mandiri, BCA, dan Bank Mega.

Dia menuturkan pihaknya berupaya mengimplementasikan prinsip kehati-hatian dalam memberikan pembiayaan kepada nasabah. Hal itu terlihat dengan rasio pembiayaan bermasalah yang menurun menjadi 2,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,8%.

”Tingkat kolektibilitas kami hingga saat ini semakin membaik. Sebenarnya untuk industri multifinance, tingkat bad debt mencapai 4% pun masih dianggap wajar,” ujarnya.
(Bisnis Indonesia - Selasa, 22 07 2008)